Jejak Kata :

Warung Tengah Malam

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Sabtu, 01 Agustus 2015 | 08.15

Pemuda berjaket kumal itu tertawa di antara irama dangdut yang sedang dinikmatinya. Sesekali ditenggaknya bir yang tak lepas dari genggamannya. Lalu tawanya menggema kembali setelah dia berhasil mencolek pantat perempuan yang lewat di depannya. Teman-temannya yang juga sedang berjoget, memeriahkan suasana dengan tawa khasnya masing-masing.

Aku memandang pemuda-pemuda itu sambil menikmati kopi yang disuguhkan Nori. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya dua atau tiga bulan yang lalu, yang berjoget sambil mabuk seperti pemuda-pemuda itu adalah aku. Setelah letih berjoget dan bir di botol habis, aku akan menghampiri Mirna dan menyewa kamar di belakang. Kalau tidak si Mirna, Sita, Dewi, Rini atau yang lainnya suka juga menemaniku. Setelah itu aku tidur dan puas.
Kalau kemudian aku lebih suka nangkring di warung Nori, ini karena dia punya sesuatu yang menarik hatiku. Nori membuka warung paling ujung di antara deretan warung-warung yang dibuka setiap malam dan tutup menjelang pagi di belakang pasar kota kecilku. Hampir setiap malam, warung Nori bisa dikatakan yang paling sepi.
Suatu malam aku mencoba minum kopi di warungnya. Aku menikmati kesendirian sambil memandang teman-temanku yang lagi joget. Aku ngobrol dengan Nori dan mendapatkan suatu kenikmatan yang membuatku kecanduan untuk menghabiskan malam-malamku di warungnya.
Kenikmatan itu kudapatkan ketika aku mengajaknya untuk tidur dan dia menolak. Di tempat seperti ini, dimana orang-orang tak lagi sempat memikirkan moral, susila dan kebersihan hati, karena terlalu sibuk memikirkan nasi sebagai penunjang hidup ragawi, Nori adalah sebuah lelucon. Dan aku senang lelucon itu. Meski bagi pengunjung lain, lelucon itu mungkin sama artinya dengan penolakan untuk mengunjungi warung Nori.
Sekali waktu, setelah sekian lama kami hanya ngobrol, aku memeluk pinggang Nori. Dia mendiamkanku. Sebagai wanita usia menjelang tiga puluhan, Nori masih menggairahkan dengan daging-dagingnya yang kenyal.
“Kenapa selalu menolak setiap kuajak ke belakang?”
Nori tidak menjawab. Tangannya mengusap-usap tanganku.
“Takut dosa?”
Nori tertawa. Baru kudengar suara renyah itu sejak aku jadi pelanggan tetap warungnya.
Dan sejak malam itu, Nori mau kuajak ke belakang untuk menyewa kamar. Nori memang memuaskan. Dia tidak seperti Mirna, Sita, Rini dan yang lainnya, yang main cepat-cepat dan pergi begitu saja. Nori banyak bercerita, tentang perjalanan hidupnya, dengan suara parau. Dan dari sudut matanya aku melihat sebutir air jatuh.
Sering aku tertawa mendengar perjalanan hidupnya. Tapi Nori mungkin tak tahu, ada nada kecewa dalam setiap tawaku. Bagiku, Nori lebih memberikan kenikmatan saat menolak untuk tidur. Dia mungkin tidak tahu perasaanku dan aku tak mau menceritakannya. Yang masih memberi kepuasan buatku karena Nori hanya mau diajak ke belakang olehku. Pengunjung lain yang mencoba mengulurkan tangan, selalu ditolaknya. Tapi meski begitu, aku lebih mengharapkan Nori menolak siapa saja, termasuk aku, seperti pertama aku mengenalnya.
“Sekarang tak takut dosa?” tanyaku suatu malam.
Nori tertawa. Tangannya memegang tanganku yang sedang memeluknya. Kemudian wajah anggunnya menghadapku dan berkata, “ Sekarang ke belakang?”
Aku tertawa. Tapi kemudian aku yang merasa kesepian dan kesal, mungkin juga marah, seperti pertama kali aku datang ke tempat ini. Aku tidur di pangkuan Nori dan berkata, “Malam belum begitu dingin. Berceritalah, aku ingin mendengarkan ceritamu.”
**
Warung tempat aku menghabiskan malam-malamku ini dikenal dengan sebutan Warung Buka Malam. Tapi aku lebih senang menyebutnya Warung Tengah Malam. Aku memang dating ke warung di belakang pasar dan singgah di tempat Nori setiap hampir tengah malam dan pulang menjelang pagi.
Meski aku tak pernah menyaksikan waktu-waktu lain selain waktu kunjunganku, aku tahu keadaan Warung Tengah Malam ini. Siang hari, bila kita ke belakang pasar, warung-warung ini tak akan pernah ada. Di sana hanya akan kita dapatkan tukang sayuran, pindang, buah-buahan dan semacamnya menggelar dagangannya. Baru menjelang malam, warung-warung ini akan dibangun. Tiangnya adalah bambu-bambu kecil dan atapnya lembaran plastik. Dengan mengambil aliran listrik dari gardu keamanan pasar, warung-warung ini sedikit meriah dengan lagu-lagu dangdut dan bohlam sepuluh watt.
Berbagai macam makanan ada. Mulai dari sate, gule, soto, sampai mie rebus, roti bakar dan minuman macam bir, ada di situ. Dan sebagai daya tarik tambahan, atau mungkin juga daya tarik utama, di sana ada perempuan-perempuan yang siap diajak bercanda dan seterusnya.
Sarana seperti itu memang memberi sedikit kesenangan bagi pengunjung yang rata-rata lelaki sibuk dalam mencari penunjang hidup. Asal sedikit punya uang, siapa saja boleh bersenang-senang di sana. Maka sopir bis, kondektur, pegawai negeri golongan bawah yang frustrasi karena gajinya tak memenuhi kebutuhan hidup, pedagang-pedagang kecil yang pulangnya tiga bulan sekali ke kampung, atau pengangguran-pengangguran yang frustrasi dan kebetulan sedang punya uang, hampir setiap malam ada di sana.
Menjelang pukul sembilan malam, pengunjung mulai meramai. Perempuan yang biasa mangkal di sana, mulai hilir mudik ke belakang (Di sana ada rumah yang menyewakan kamar-kamar kecil per jam), atau pergi ke suatu tempat kalau ada perjanjian khusus dengan penyewanya. Satu dua pengunjung laki-laki, datang dan pergi bergantian. Mereka makan-makan sambil tertawa. Sebagian menenggak bir dan joget di depat warung. Yang lain menyoraki dan memberi komentar-komentar. Lalu mereka tertawa bersama-sama. Atau, kalau keadaan lagi jelek, ada juga yang berkelahi.
Aku hapal betul keadan Warung Tengah Malam seperti ini. Aku memang salah seorang penikmatnya. Hampir seluruh tempat seperti ini, di kotaku, pernah aku kunjungi. Sampai aku kecanduan untuk datang ke Warung Tengah Malam yang di belakang pasar ini, karena di sini ada Nori.
Aku tak pernah menyesal untuk menghabiskan uang di warung Nori. Sampai uang hasil menarik becak siang tadi, atau uang pemberian istriku, habis di sini, aku tak kapok. Nori bagiku bagaikan air yang kutemukan di saat aku kehausan. Dia memberikan kesejukan dalam hatiku atau mungkin dalam kefrustrasianku. Aku, yang pernah menamatkan SMA dan sempat masuk kuliah, akhirnya hanya jadi tukang becak. Dan istriku, yang dulu aku cintai setengah mati, aku biarkan utnuk mencari nafkah, karena aku tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Maka Nori adalah pelarianku. Dia begitu mempesona saat menolak ajakan untuk ke belakang menyewa kamar. Meski kemudian aku kecewa karena Nori mau kuajak ke belakang, pesonanya di mataku tak luntur semua. Aku yakin, Nori sendiri tak pernah menginginkan hal itu terjadi.
Suatu malam, selesai tidur, Nori mengusap-usap rambutku, lalu katanya, “Manusia, tak pernah puas akan keadaannya. Mereka selalu terpesona oleh sesuatu yang gemebyar dan mengejarnya.”
Aku membenarkan dalam hati. Tapi kemudian aku berpikir, apakah dia menyindir atau sedang membicarakan dirinya. Aku tidak tahu. Mungkin kedua-duanya benar.
Lalu Nori bercerita tentang kisah hidupnya, seperti malam-malam yang lain. Dia datang dari desa, bersama suaminya, untuk hidup di kota. Setelah melalui perjalanan yang mereka rasakan begitu pahit, mereka terdampar di Warung Tengah Malam belakang pasar. Suaminya menarik becak dan menjaga keamanan di sana. Mereka hidup lumayan dan tak mau lagi hidup susah.
Aku belum pernah melihat suami Nori selama ini. Sampai suatu malam, saat ada perkelahian, Nori memberi tahu. “Itulah suamiku,” katanya sambil menunjuk orang yang mengamankan pemuda-pemuda yang berkelahi. Aku ingat, lelaki itu yang pernah mengantar aku pulang dengan becaknya. Hanya sekali itu aku mau diantarnya. Dia terlalu mencurigakan. Setiap malam, saat aku lewat di tempat pangkalan becak, laki-laki itu selalu memandangku.
Malam itu, waktu laki-laki itu mengantarku pulang, dia berkata: “Tak pernah ada orang yang senang saat apa yang dipunyai dan dicintainya dipermainkan orang lain. Semuanya akan marah, meski kata yang lain barang itu begitu murahan dan tak berharga. Cinta adalah sesuatu yang tidak pernah diperjualbelikan.”
Hampir saja aku turun dan mengajaknya berkelahi waktu itu. Tapi aku terlalu capek dan mungkin apa yang dikatakannya  hanyalah sebuah kebetulan, tidak menyindirku. Waktu itu Nori belum mau kuajak ke belakang untuk menyewa kamar. Aku hanya sering memegang tangannya dan mengusap-usap rambutnya.
**
Malam ini kembali aku menghabiskan sebotol bir. Kopi yang diseduh Nori tidak lagi memberi kepuasan. Pesona Nori berkurang lagi dari hatiku. Tadi, saat aku memeluk pinggangnya, perlahan Nori melepaskannya.
“Mau ke belakang sekarang?” tanyanya.
“Aku ingin mendengarkan dulu ceritamu.”
Tapi Nori menggeleng. Dan katanya, “Duduklah dulu di depan, aku ada tugas malam ini.”
“Tugas apa?” tanyaku. Belum sempat pertanyaanku terjawab, Nori berdiri dan menghampiri si Gendut, sopir bis yang rutin setiap bisnya bermalam di kotaku mengunjungi Warung Tengah Malam belakang pasar ini. Mereka bergandengan menuju ke belakang.
Lewat tengah malam aku mengambil lagi sebotol bir. Nori yang tadi telah menemani si Gendut, menghampiri dan membenamkan kepalaku ke pelukannya. Lalu katanya, “Mau ke belakang?”
Aku tidak menjawab.
“Atau ke rumahku saja. Suamiku tadi pergi dengan si Mirna. Sejak dia mengijinkan aku menemanimu ngamar, dia sering pergi dengan si Mirna. Mungkin di rumah si Mirna dia mabuk.”
Sejak malam itu, saat Nori menerima ajakan si Gendut, warung Nori mulai ramai, seramai warung-warung lainnya. Sesekali, aku pun melihat suami Nori mabuk dan ngamar. Dia tak lagi jadi penjaga keamanan di Warung Tengah Malam ini. Aku mengerti perasaannya. Sekali aku berkelahi dan mabuk bersamanya.
Meski Nori sibuk melayani pengunjung lain, ia selalu menyempatkan diri menghampiriku dan membenamkan kepalaku di pelukannya. Lalu ia akan mengusap-usap kepalaku dan berkata, “Mau ke belakang?”
Aku menggeleng. “Malam sudah larut, sebentar lagi subuh, aku harus pulang,” kataku. Aku pun pergi, menuju Warung Tengah Malam lain, kira-kira dua kilo meter jauhnya dari sini. Di sana, istriku pasti sudah menunggu. Atau mungkin aku hanya mendapatkan surat seperti biasa yang menyatakan bahwa istriku sedang pergi dengan penyewanya dan warung dititipkan pada tetangga dan harus dibongkar.

Calon Minantu

Written By humor dunia on Rabu, 29 Juli 2015 | 11.09



Carpon Yus R. Ismail, majalah Mangle no. 2522, 9-15 April 2015

Bungah jeung rada geumpeur ditélépon budak téh. Ari kituna, kakara ayeuna aya obrolan ngeunaan bébénéna, calon minantu kuring cenah. Rarasaan téh budak leutik kénéh. Asa kakara kamari diaakod dipupunglu bari ngurilingan kebon binatang. Sakapeung ngilu nganteur ka PAUD. Resep ningali budak wanteran nyanyi Cicak Di Dinding di hareupeun kelas. Reueus ningali budak ngagalontong macakeun surat Al-Asr. Ari ayeuna, bet ngajak ngobrolkeun bébénéna, calon minantu kuring.
“Upami Apa sareng Mamah badé ka dieu, saéna mah dinten minggu,” ceuk Kinanti basa nélépon. “Minggu mah abdi sareng Kang Sutardi apan libur.”
Tulusna mah minggu pasosoré indit téh. Naék karéta api KRD ti stasion Bandung. Tadina mah rék indit ti isuk kénéh. Ngan duka kumaha, éta sang jikan, ujug-ujug ngaburudulkeun deui bebekelan tina kardus. Ranginang, brownies, jeung puas-pais diudulan.
“Brownies sareng ranginang mah henteu sawios kénging mésér,” cenah rada dareuda. “Tapi ari puas-pais mah asana téh mani henteu ngarareunah haté. Henteu sabulan sakali nganjang ka budak téh. Ari Si Nyai mulang ogé apan sok dipangmaiskeun lauk emas jeung hayam. Naha ari ayeuna maké kudu mésér ti pasar.”
“Maksad Mamah téh kumaha?” témbal téh henteu ngarti.
“Miosna urang sonten waé. Mamah badé mais heula.”
Kuring seuri ningali anu luwa-lewé. “Muhun mangga hoyong mais nyalira mah. Santéy waé atuh da urang mah sanés orang-sibuk,” pok téh.
**
Sugan téh poé minggu mah kosong KRD téh. Ari pék ngantri di lokét ogé mani panjang. Ari kituna, KRD mah enya-enya angkutan rahayat téh karasa. Ongkosna apan ngan saréwu lima ratus rupiah. Enya wé, sigana ti stasion Padalarang kénéh KRD téh geus pinuh. Da enya ogé sababaraha gerbong dipapay, alhamdulillah henteu kabagéa bangku.
Nyarandé téh di tengah gerbong. Dua dus oléh-oléh dijajarkeun di handap. Pamajikan mah kabagén diuk enya ogé néwél. Éta ogé pedah aya budak awéwé anu ngéléhan.
“Mangga Ibu calik, wios abdi anu tatih,” pokna téh bari nangtung. Da meureun cangkeul, pamajikan terus diuk bari sababaraha kali nyebut nuhun.
Budak awéwé téh diteuteup. Asa leuwih geulis batan tadi. Meureun pedah bisa ngarampa saeutik lelembutanana. Bageur budak téh. Nyaahan ka anu leuwih kolot. Pamajikan mah meureun katingali ripuh lamun nangtung. Leuwih ripuh batan manéhna. Kayungyun ku kituna ogé.
Umurna mah paling dua puluh taunan. Boa saumur jeung Kinanti, budak kuring, pas dua puluh taun téh tilu bulan kaliwat. Lulus SMU téh henteu terus kuliah Kinanti mah. Keur mah kuringna riweuh. Tas katipu ku anu ngorder katering henteu mayar-mayar.
“Taun payun wé hoyong kuliah mah. Ayeuna Apa nabung heula,” ceuk kuring harita. “Kinan mah kursus waé heula atuh. Atanapi bantuan Bi Iis di kios baso.”
Tapi Kinanti hayang nyiar pangalaman cenah. Nuturkeun babaturanana tadina mah, ngalamar ka pabrik tekstil di Rancaékék. Pada nawaran langsung gawé, asal aya panyogokna cenah keur anu manguruskeunana, lima juta rupiah.
“Apa mah satuju pami Kinan hoyong damel naon waé ogé, itung-itung nyiar pangalaman, asal tong aya sasagak-sosogok. Sanés apa henteu mampuh, tapi ti kapungkur ogé Apa mah henteu satuju ka anu karitu,” ceuk kuring.
Kinanti henteu némbal nanaon. Haté leutikna mah meureun manéhna ogé henteu satuju kana sagak-sogok téh. Ari pék, ngalamar biasa ogé geuning ditarima. Mimiti gawé mah dialanteurkeun ku saréréa. Maksud saréréa téh, bibina, uwana, amangna, ngarilu sapiriumpi. Kios baso ogé apan nepi ka nutup. Dua mobil nganteurkeun téh. Hayang seuri mun seug inget, budak téh apan pindahna ngan ka Rancaékék.
Saminggu tas nganteurkeun, indungna mah geus hayang néang deui. Kitu wé nepi ka  sababaraha bulan mah. Ari kituna budak nunggal apan Kinanti téh. Budak bageur, singer, pinter, hormat ka kolot nyaah ka dulur.
Geus aya kana lima bulan mah pleng wé tara dilongok-longok. Sabulan sakali mah budakna anu sok mulang. Atuh kuring jeung pamajikan anteng deui ngurus kios baso bari dibantuan ku dulur-dulur.
Taun kadua meureun ayeuna téh budak gawé di pabrik. Éta ogé ditawaran pikeun kuliah, tapi kalah gideug. Nabung heula cenah. Ari kamari ujug-ujug ngadongéngkeun bébénéna, calon minantu kuring cenah. Kinanti téh hayang rumah-tangga heula cenah.
“Kuliah ogé hoyong, tapi bari rumah tangga ogé apan tiasa waé,” cenah. “Kinan mah hoyong nikah muda. Supados henteu aya fitnah, tebih tina dosa.”
Rada ngahuleng mimitina mah ngadangu pok-pokan budak téh. Disidik-sidik budak téh, enya papakéanana asa rada béda ayeuna mah. Kurudungna henteu siga baheula keur SMU. Ayeuna mah panjang, nutup nepi kana dadana. Unggal mulang ogé salawasna maké gamis. Boa budak téh ngiluan kana pangajian-pangajian barudak ngora téa. Atoh aya, sieun ogé aya. Sieun budak sasab kana aliran sesat.
“Doakeun waé ku urang. Da Si Nyai mah geuning kalah beuki hormat ka urang ogé,” ceuk pamajikan. “Ari aliran sesat mah apan ka kolot ogé henteu hormat. Malah kolot ogé dianggapna musuh.”
**
Di stasion Kiaracondong  KRD téh eureun. Panumpang anu turun mah can aya. Tapi anu asup geuning ngantay kénéh. Anu sésélékét aya, hayang ngaliwat duka arék ka mana, da di tukang ogé sarua pinuh.
Aya aki-aki kadorong ngadeukeutan ka kuring. Jen wé nangtung di tengah, henteu kabagéan nyarandé-nyarandé acan. Késang renung dina tarangna. Sababaraha kali kopéahna dicuplak, hareudang meureun. Henteu babawaan nanaon. Tapi nyorangan ogé katingalina geus ripuh. Sampéanna ngadégdég. Siga anu rék sabru-brueun labuh.
Kuring ngarérétan ka panumpang. Ampir kabéh karolot. Aya ogé si Neng keur nyusuan budakna. Karunya lamun kudu nangtung téh. Di hareup aya sapasang rumaja, keur bobogohan sigana. Leungeun budak lalaki anu dijakét jeans nangkeup kabogohna. Duanana bari ngamaénkeun games dina tablét. Henteu rarat-rérét duanana ogé. Anteng téh lain heureuy. Abong aya laguna aya caritana, keur anu mabok cinta mah dunya téh asa anu duaan. Henteu apaleun kitu di hareupeunana aya aki-aki rék ngudupruk?
Sapok-pokeun jeung leungeun mani ateul hayang noél anu keur ocon. Cing atuh tong kamalinaan, enya ogé hak manéhna nempatan bangku da pangheulana datang. Kuring déhém dua kali, rada tarik. Budak lalaki si jekét jeans ngarérét, budak anu awéwé ogé nuturkeun ngarérét. Tapi terusna mah aranteng deui bari silihharéwos.
Ceuk haté, anu keur ocon téh lain henteu ningalieun aya aki-aki rék ngudupruk. Tapi duanana henteu boga itungan, henteu ngarampa kasusah batur, henteu aya rasa nyaah ka anu ripuh. Matak kuring gancang noél si aki.
“Aki, mangga nyarandé palih dieu,” pok téh bari méré tempat pikeun nyarandé. Si aki ngarénghap ngemplong, terus nyarandé bari nganuhunkeun. Kuring mah nangtung ogé rarasaan masih jagjag. Umur téh apan kakara 47 taun. Enya ogé tara olah raga tara fitnes, apan ukat-akut balanjaan di pasar ogé sarua jeung sport.
**
Mani ngagabrug Kinanti basa panggih jeung indungna. Atuh indungna ngagalentoran henteu cukup sakali-dua kali. Henteu ngabibisani enya ogé bulan kamari budak téh mulang. Da kahayangna mah jeung budak téh saimah deui siga baheula. Tapi nyaah anu henteu wijaksana meureun lamun kitu.
“Mana si Aa téh, Nyai?” ceuk indungna. Kuring mah ti tadi ogé henteu wani ngamimitian ngomongkeun perkara éta. Tapi ceuli mah mani rancung hayang geura apal.
“Saurna bada magrib badé ka dieuna. Tadi énjing téh saurna jajap heula ibuna berobat ka Bandung,” témbal Kinanti bari sura-seuri.
“Naha mani acan kungsi diajak ka Bandung.” Indungna nyeleksek siga anu henteu sabar. “Kenalkeun heula atuh ka Apa sareng Mamah, jalan-jalan heula. Si ibi, amang, uwa, mani hayang geura pendak cenah jeung calon Nyai.”
Kinanti imut siga anu éra. “Da pendakna ogé teu acan lami, Mah. Saurna mah Kang Sutardi téh guru ngaos di mushola di Majalaya,” cenah mimiti ngadongéng. “Nembé kenal ogé teras nga-sms-an. Abdi sieun janten kaawonan. Pendak kadua kalina waktos pangaosan di masjid Raya Cicaléngka, ku abdi disaurkeun alim di-sms-an. Anjeunna kalah nyarios hoyong ngahitbah. Abdi ogé apan kahoyong mah sapertos kitu. Alim lami-lami ta’aruf, komo bobogohan. Saur abdi, mangga pasihan waé waktos badé solat istikharah heula. Kang Sutardi malah hoyong pendak sareng Apa sareng Mamah, saurna badé ngahitbah langsung.”
Kuring mah henteu némbal nanaon. Sieun salah pok. Apan di lingkungan barudak pangajian mah, jojodoan téh kitu lumangsungna. Henteu aya bobogohan, henteu aya ulan-ulin komo silihcepeng leungeun silihtangkeup mah. Apan gancang walimah ogé cenah keur nyingkahan anu kararitu.
“Ari Nyai, atos istikharahna?” Indungna nanya deui.
“Wengina ogé abdi mah teras solat istikharah, ngadoa téh dipanjang-panjang. Hoyong énggal dicaketkeun, dihalalkeun, upami leres jodo abdi. Tapi ogé énggal ditebihkeun upami sanés jodo abdi anu saé.”
Rarasaan, umur dua puluh taun téh kuring mah acan mikir siga kitu. Boa batal haram ogé can bener-bener nyaho. Matak enya ogé ka budak, haté mah hormat. Kukumaha ogé, si Nyai téh leuwih soléh batan kuring. 
Bada magrib solat jamaah tiluan. Terus ngadoa. Can anggeus ngadoa téh basa aya anu ngetrok panto terus uluk salam. Kinanti anu ngojéngkang muka panto. Haté mah tagiwur. Puguh atuh bakal boga minantu, boga budak anyar, bakal papisah jeug si Nyai boa bakal leuwih lila da kudu nuturkeun ka mana salakina indit.
Kuring jeung pamajikan ka ruang tamu. Tempat kost Kinanti téh mangrupa imah anu aya dalapan kamar. Aya ruang tamu keur saréréa. Budak lalaki anu diuk dina korsi téh nangtung, rengkuh, basa kuring nyampeurkeun.
“Ieu Kang Sutardi téh, Pa, Mah,” ceuk Kinanti.
Budak lalaki anu arék nyolongkrong sasalaman téh ngarandeg. Terus tungkul. Leungeunna ngageter. Sukuna ogé ngadégdég, siga aki-aki anu nangtung di tengah gerbong KRD anu pinuh. Puguh kuring ogé apal ka budak lalaki ieu mah. Apal kénéh kana jékét jeans-na. ***

Pamulihan, 9-10 Maret 2015



Ambilkan Bulan, Bu 5


Hidup yang Ajaib
   
NURLITA membenahi lagi hidupnya yang sempat acak-acakan. Dia memindahkan tempat tidur, meja rias, mengganti posisi kamarnya. Lamaran pekerjaan dilayangkan ke beberapa perusahaan. Dia ingin melupakan segalanya. Melupakan Lia. Melupakan kepercayaan dan cinta yang dia rasakan ditumpahkan gadis malang itu. Meski hati kecilnya tetap menyimpan kenangan yang bila diingat selalu mengharukan.
Nurlita ingin memulai hidupnya yang baru. Tanpa ingatan kepada Lia. Tidak begitu berharap banyak dengan Anggoro meski lelaki itu beberapa kali menghubunginya. Tapi tiba-tiba Andri, seorang wartawan koran Hati Rakyat yang pernah dihubunginya, mengetuk pintu kamarnya suatu sore.
“Ada apa, Kang?”
“Saya punya kabar tentang Lia. Diperkirakan anak itu dibawa keluarga Pak Anjung, keluarga yang selama ini merawatnya.”
“Kabar dari siapa?”
“Teman-teman sekolahnya bilang seperti itu. Mereka mengenal juga Heru, anak yang memperkosa Lia itu. Selama ini mereka mengira Heru adalah kakak Lia.”
“Kang Andri pernah mengecek ke rumah Pak Anjung?” 
“Belum. Saya ingin tahu dulu rencana Ita. Mau melapor kepada polisi atau gimana. Teman-teman di LBH juga mengharapkan Ita melaporkan kembali kehilangan Lia. Sebenarnya orang-orang sudah tahu, polisi juga. Tapi ini resminya. Biar polisi yang menangani.”
“Kita coba baik-baik saja dulu, Kang. Kita datang ke rumah Pak Anjung. Siapa tahu Lia memang ada di sana, dan dia merasa bahagia dengan itu.”
Mereka pun pergi ke rumah Pak Anjung besoknya. Tapi Lia tidak ada di sana. Ibu Anjung yang menerima mereka malah mengaku baru tahu. Dia bilang, sebenarnya Pak Anjung mendukung pengadilan itu digelar. Siapa tahu Heru memang terbukti bersalah. Bagaimanapun dia harus dihukum. Tapi kemungkinan besarnya, Lia sebenarnya tidak diperkosa.
“Lia itu pembantu di sini, Dik. Dia datang ketika berusia 9 tahun, dibawa pembantu kami dari kampung. Tapi kami tidak tega mempekerjakannya. Lia disekolahkan, dari SD sampai semampu dia. Rupanya baru sampai SMU saja, dia sudah berpikir lain. Dia pikir, dia akan menjadi penghuni rumah ini tanpa embel-embel pembantu. Makanya dia mendekati Heru. Ibu memang kecolongan juga. Ibu kira hubungan diantara mereka seperti majikan dan pembantu pada umumnya. Ibu tidak mengira....”
Nurlita yang tidak kuat mendengar apa yang dikatakan Ibu Anjung, cepat memotong dan pamitan. Dia tidak ingin memikirkan gadis itu lagi. Tapi bersama Andri dia melapor juga kepada polisi. Entah kemana saja polisi mencari Lia, Nurlita tidak tahu dan tidak pernah menanyakannya. Dia hanya berharap, sekali waktu ada kabar keberadaan Lia. Dia mengharapkan kejutan seperti itu.
**
SEBULAN kemudian.
Belum juga ada panggilan pekerjaan untuk Nurlita. Untuk tes sekalipun. Entah apa pertimbangan perusahaan-perusahaan yang dilamar itu. Padahal Nurlita termasuk lulusan dari universitas favorit, pengalaman sudah ada, dan kriteria umum lainnya yang lebih dari memenuhi syarat. Tapi Nurlita tidak mau menduga-duga sebabnya. Barangkali nasibnya saja mesti begitu.
Hari-hari terasa jemu. Seharian di kamar, mendengarkan musik, membaca buku, akhirnya membosankan juga. Jalan-jalan setiap sore, menyusuri tempat-tempat yang memberinya kenangan di kota ini. Bagaimanapun, Nurlita harus mengakui, dia terpukul dengan menghilangnya Lia. Meski gadis itu hanya seminggu saja tinggal di kost-annya.
Nurlita tidak mengerti, hubungan apa yang terjadi antara dia dengan Lia. Dia merasa telah mengenalnya cukup lama, mempercayai semua yang dibicarakannya, merasakan kesedihannya. Sama halnya mungkin dengan kepercayaan penuh Lia terhadap dirinya. Kepercayaan untuk tidak ragu-ragu menangis dalam pelukan Nurlita. Menceritakan segala masa lalunya dengan gairah tersendiri.
Seperti ada perasaan ajaib yang menghubungkan keduanya. Setidaknya Nurlita merasakan itu. Atau, hidup ini barangkali memang sebuah keajaiban. Sebuah teka-teki yang siapapun tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Mempercayai pikiran seperti itu, Nurlita merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. Dia tidak menyerah dengan apapun yang ditolak pikiran dan perasaannya. Dia berbangga dengan itu. Sementara menganggur seperti sekarang, kebimbangan yang kadang muncul, barangkali itu sebagian dari keajaiban hidup.
Nurlita sebenarnya tidak bermimpi keajaiban itu semakin ajaib dirasakannya. Tapi begitulah, pagi itu setelah mandi dan bersiap-siap memposkan surat lamaran pekerjaan yang semalam dibuatnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Assalamu’alaikum....”
“Wa’alaikumussalam.”
Dan di depan pintu kamarnya Nurlita melihat seorang gadis berwajah pias, seperti tidak berdarah. Gadis itu menunduk, tidak berani bertatapan dengan Nurlita. Nurlita melihatnya takjub. Dia seperti yang merasakan kegetiran gadis yang dalam sebulan saja tidak bertemu badannya menyusut drastis itu. Dia merentangkan tangannya. Dan gadis itu menghambur ke pelukannya, menangis sesenggukan. Nurlita membelai rambutnya, memeluknya erat.
“Maafkan Lia, Teteh....”
Nurlita membawa Lia ke dalam, mendudukkannya di kasur. Pelukannya tidak dilepaskan.
“Menangislah ... Teteh merasakan kepedihanmu.”
Setelah tenang, Lia menceritakan kepergiannya. Dia diminta Ibu Anjung untuk mengikutinya, membicarakan jangan sampai pengadilan itu terjadi. Tapi kemudian Lia ditempatkan di sebuah rumah, dijaga anak buah Ibu Anjung.
“Lia juga ingin semuanya baik-baik. Lia mau saja kalau kemudian dinikahkan dengan Heru. Tapi Ibu Anjung tidak menghendaki itu. Dia menginginkan Lia melupakan semuanya, memberi sejumlah uang dan Lia pulang ke kampung. Lia tidak ingin uang atau apapun. Tapi pulang, pulang ke siapa, Teteh?
Kalau Ibu Anjung tidak menghendaki pengadilan itu, biarlah itu tidak terjadi. Jangan kasih Lia uang, jangan kasih apapun. Lia memaafkan semuanya, memaafkan siapapun. Tapi kemudian Lia positif, Teteh. Lia hamil. Dan Ibu Anjung menghendaki janin ini digugurkan. Lia tidak mau. Lia akan berusaha melindungi janin ini, apapun yang terjadi. Dia tidak bersalah.”
Lia menangis kembali di pangkuan Nurlita.  Airmatanya mengalir deras, membasahi baju Ita. Kemudian gadis itu mendongak, memandang Ita, menggenggam tangannya. “Teteh marah? ... Maafkan Lia, Lia tidak tahu apa yang mesti dilakukan,” katanya.
Nurlita memeluk Lia semakin erat.
**

Keadilan Abadi

PENGADILAN itu akhirnya digelar. Nurlita berusaha mewujudkannya. Meski bukti-bukti yang mendukungnya hanya baju sobek yang dulu dipakai Lia. Bukti itu nyatanya memang tidak membantu banyak. Saksi yang ditampilkan semuanya malah memberatkan Lia. Semuanya, yang entah siapa saja, karena Lia pun tidak mengenalnya, hampir satu pandangan dengan Ibu Anjung.
“Saya khilap, karena tidak kuat juga ketika Lia menggoda terus. Sebagai gadis remaja, dia termasuk cantik dan seksi. Apalagi malam itu, hujan turun, Lia mendekati saya. Sebagian baju tidurnya tersingkap. Sekali lagi dia menanyakan hubungan diantara kami. Saya pikir ... saya pikir, dia tidak, dia tidak akan menuntut...”  Heru tidak melanjutkan ceritanya, entah karena apa. Pandangannya terus menunduk.
“Saya pikir dia anak baik. Datang dari kampung, menunduk-nunduk, tidak berani bertatapan. Saya pikir dia akan terus baik. Tidak punya pikiran yang tidak-tidak. Dia kan sudah dianggap keluarga. Tapi nyatanya, dia punya maksud lain. Dia ingin menjadi menantu kami. Tidak apa-apa sebenarnya, asal suka sama suka. Tidak dengan cara seperti ini. Karena dengan begini tidak akan langgeng. Saya sendiri malah menjadi jijik melihatnya. Ini cara-cara keji dari seorang wanita.”
Lia menangis mendengar penuturan Ibu Anjung itu. Nurlita menenangkannya.
Kemudian dihadapkan saksi yang mengaku teman Heru, tidak pernah berkenalan dengan Lia, tapi dia tahu banyak Lia. Katanya, Heru sebenarnya sedang naksir teman kampusnya. Tapi Lia cukup agresif mengikuti kemana Heru pergi. Dia pernah memergoki Lia masuk ke ruang perpustakaan saat Heru ada di sana dan membawakan air minum. Dia pikir, waktu peristiwa itu terjadi, siapa tahu Heru pun telah dikasih minum yang telah dibubuhi obat.
Satu-satunya saksi yang membantu tuntutan Lia adalah Bi Ami. Wanita buta hurup itu berpendapat, Lia tidak mungkin melakukan seperti itu. Sejak kecil dia mengenal Lia sebagai gadis yang baik. Meski berbagai kepahitan hidup menimpanya, tapi Lia selalu menerimanya dengan tabah.
“Ibu tahu apa yang dilakukan Lia bila malam-malam ke ruang perpustakaan.?” Tanya pembela Heru.
Tida.”
“Sejak kapan Ibu mengenal Lia?”
“Sejak masih bayi.”
“Ibu satu kampung?”
“Sumuhun.”
“Ibu masih saudara?”
“Sumuhun.”
Dengan begitu saja, majelis hakim diyakinkan bahwa Bi Ami menilai Lia subjektif. Hari itu sidang selesai. Lia tak bicara sepatahpun sampai Nurlita membawanya ke kost-annya. Makanan yang diberikan kepadanya tidak disentuh sama sekali. Pandangannya menerawang. Nurlita berkali-kali membujuknya untuk makan. Tapi Lia selalu menggeleng. Berkali-kali malah dia muntah-muntah. Muntah lendir, karena sejak pagi tidak ada makanan yang masuk ke perutnya.
Sorenya Bi Ami datang sambil menangis. Tas berisi baju-bajunya dijinjing. Katanya, dia diusir karena tidak memberi keterangan seperti yang telah diajarkan Ibu Anjung. Mestinya Bi Ami bilang, Lia memang suka memakai baju-baju yang memperlihatkan kebagusan badannya. Di kamar seringkali dia bersolek. Apalagi bila diajak main oleh Heru.
“Tapi Bibi teh henteu tiasa, Neng,” katanya kepada Nurlita.
“Sekarang mah Bibi di sini saja. Nemenin saya dan Lia.”
Nurlita menanyakan siapa lagi yang kira-kira bisa diminta menjadi saksi. Tapi Lia tidak mengatakan siapapun. Dia malah bilang mau menyudahi proses hukum itu. Dia ingin tenang. Dia merasa terganggu, merasa tidak bisa menanggung bila harus menyaksikan persidangannya lagi.
“Tapi ini untuk kebaikan kamu, Lia. Orang bersalah harus dihukum.”
“Kalaupun Heru dihukum, apa untungnya kita? Semuanya tidak akan berubah. Lia hanya ingin menjalani sisa hidup ini dengan sebaik-baiknya.”
Semuanya kemudian terdiam. Bi Ami yang kemudian menceritakan Iwan, anak Ibu Anjung yang paling menyayangi Lia. Tapi sebelum Nurlita menanyakan lebih lanjut, Lia memotongnya.
“Jangan, jangan ganggu dia, Teh. Lia tidak bisa membayangkan kalau A Iwan tahu. Dia telah menderita banyak selama ini.”
Tapi akhirnya Nurlita bisa meyakinkan, bagaimanapun Iwan harus coba dihubungi. Siapa tahu dia bisa membantu. Nurlita sendiri yang akan datang ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) tempat dia dipenjara.
Besoknya Nurlita terhenyak ketika membaca koran-koran menulis bahwa Lia digambarkan sebagai wanita penggoda. Peristiwa persetubuhan, bukan perkosaan, itu terjadi karena gadis itu memang menghendakinya. Nurlita tidak memberitahukan berita-berita yang dibacanya di tukang koran itu. Dia telah membeli koran-koran itu, tapi diberikannya lagi kepada pedagangnya. Hanya koran Hati Rakyat yang tidak menulis seperti itu. Karenanya Lia merasa perlu untuk menelepon Andri, mengucapkan terima kasih atas empatinya.
“Ibu Anjung memang mengadakan jumpa pers kemarin. Heru merinci peristiwa itu seperti yang di sidang. Tapi entah mengapa, saya merasa lain,” kata Andri di telpon.
“Terima kasih atas empatinya, Kang Andri.”
“Saya ikut merasakan, Ita. Baru kali ini saya merasa begitu cape menjadi wartawan. Bagaimanapun, harus ada saksi kunci yang memberatkan pemerkosa.”
“Saya sudah tahu orangnya.”
“Bisa saya mewawancarainya sekarang?”
“Nanti saja di pengadilan.”
**
LELAKI muda berbadan ceking itu berdiri di pintu ketika Nurlita menunggu di bangku besuk LP. Keningnya berkerut. Ruangan  yang tidak begitu besar itu terasa begitu sepi. Waktu itu memang bukan waktu besuk. Tapi Nurlita mempunyai ijin khusus setelah menceritakan maksudnya kepada Kepala LP.
“Anda mencari saya?” tanyanya tanpa duduk terlebih dahulu di kursi.
“Iya. Saya temannya Lia.”
Lelaki itu menatap tajam. Dia menarik kursi dan duduk. “Ada apa dengan dia?” tanyanya kemudian.
“Tidak ada apa-apa. Dia baik-baik.”
“Tapi sudah sebulan sepuluh hari dia tidak menjenguk ke sini. Biasanya seminggu sekali dia datang. Saya rasa dia ada apa-apa.”
Nurlita menarik napas panjang. Ah, perasaan orang yang saling menyayangi selalu lain. Dia tidak bisa dibohongi. Nurlita tidak tahu, mesti darimana memulainya.
“Ceritakanlah. Saya siap menerima apapun yang terjadi.”
Tapi begitu Nurlita menceritakan, dengan kata-kata yang rasanya paling hati-hati dia pilih, Iwan terhenyak di kursinya. Seandainya tidak ada sandaran, tubuh itu sepertinya akan menumpuk seperti kain.
“Maaf, saya terpaksa menyampaikan kabar buruk itu. Saya tidak tahu, apa yang mesti saya katakan lagi. Sidang telah dimulai. Dan semuanya memojokkan Lia, mengesankan dia gadis yang binal.”
“Anda meminta saya menjadi saksi?”
“Tadinya iya. Tapi kalaupun tidak, saya mengerti perasaan Anda.”
Iwan memandang ke jauhnya, menembus kaca ke taman yang memanjang, tempat para napi memelihara tanaman.
“Saya tidak tahu apa yang akan saya katakan nanti. Tapi saya akan datang kalau diijinkan.”
“Saya akan mencoba mengurus perijinannya.”
Iwan menatap Nurlita. Ada yang beda dari wanita yang ada di hadapannya ini. Barangkali dia belum begitu lama mengenal Lia. Karena adiknya itu belum pernah menceritakan kenalannya yang seperti ini. Tapi mendengarkan suaranya, sepertinya wanita ini telah mengenal Lia begitu lama.
“Saya mengenal Lia ketika gadis itu kabur dari rumah, setelah diperkosa. Belum begitu lama. Tapi entah juga, kami sepertinya punya perasaan yang tidak bisa dimengerti orang lain. Saya tidak menyesal melakukan apapun untuk membantunya. Mohon jangan dicurigai apapun.”
“Saya tidak mencurigai Anda. Saya pun merasakan perasaan Anda.”
Nurlita terkesiap mendengarnya. Dan saat matanya beradu dengan mata Iwan, dia merasa ada yang aneh juga dengan dirinya. Baru kali ini dia merasa begitu cape. Sebenarnya dia membutuhkan seseorang yang menenangkan gelisahnya, mendukung sikapnya, membesarkan hatinya.
“Saya sangat menghormati apa yang telah Anda lakukan. Saya ingin bertemu dengan adik saya. Tapi apalah daya, orang  tidak bebas seperti saya tidak bisa mengusahakan apapun.”
Iwan berdiri karena penjaga sudah dua kali memberitahu bahwa waktu  yang tadi diberikan Kepala LP sudah habis. Di pintu, sekali lagi dia menoleh. Nurlita tersenyum. Perasaannya diharu-biru entah oleh apa. Ingin dia menangis. Dia merasakan keharuan yang begitu mendalam. Tapi begitu keluar dari LP, dia merasa tenang. Merasa punya tenaga baru.
**    
SIDANG dimulai lagi. Pengunjung dan wartawan semakin banyak yang datang.  Mereka tahu, hari ini akan dihadapkan Iwan, saksi yang merupakan adik kandung Heru tapi sangat dekat dengan Lia. Selain itu, Iwan yang merupakan aktivis kampus dikenal oleh banyak kalangan. Teman-temannya dari kampus berdatangan.
Tapi sebelum Iwan maju ke depan, seseorang meminta dirinya dijadikan saksi. Pengunjung terkesiap melihat lelaki yang tiba-tiba menangis di kursi saksi itu.
“Bisa untuk tidak menangis,” kata hakim.
Lelaki itu menahan perasaannya. Tinggal sedunya yang sesekali hampir terdengar.
“Silakan ceritakan, apa yang bisa Anda saksikan.”
“Saya ini sopir di keluarga Pak Anjung. Saya mengenal Neng Lia sejak kecil. Saya tidak tahu banyak apa yang dilakukannya setelah remaja. Saya hanya tahu dia suka menyiram bunga, membantu Bi Ami di dapur, dan akrab ngobrol dengan siapa saja. Dia pernah datang ke rumah saya, membawa makanan hasil masakannya, ngobrol dengan istri dan anak-anak saya, seperti dengan keluarganya sendiri. Jadi, jadi saya tidak tega ketika membaca koran-koran, Neng Lia dibilang....”
“Nama Bapak siapa?” tanya jaksa penuntut.
“Apit. Apit Solehudin.”
“Bapak menjadi saksi diniatkan sendiri?”
“Iya.”
“Kenapa tidak dari kemarin?”
“Tadinya saya banyak takutnya.”
“Takut dikeluarkan dari pekerjaan?”
“Iya.”
“Tapi sekarang tidak?”
“Saya tidak tega membaca berita koran....”
Pembela Heru kemudian bertanya banyak hal tentang kedekatan Mang Apit dengan Lia.
“Bapak tahu, apa saja yang dilakukan Lia di sekolah?”
“Tidak.”
“Selain melihat Lia menyiram bunga, Bapak tahu apa yang dilakukan Lia di tempat lainnya?”
Mang Apit menggeleng.
“Tidak mengerti?”
“Iya.”
“Bapak tahu apa yang dilakukan Lia di kamarnya?”
“Tidak.”
“Di ruang perpustakaan, tempat yang paling sering Lia kunjungi?”
“Tidak.”
“Kalau banyak tidak tahunya, mengapa Bapak bisa menyimpulkan Lia anak yang baik?”
Mang Apit tidak menjawab. Airmatanya sudah mengering sama sekali.
Giliran Iwan yang duduk di kursi saksi, pengunjung lebih tenang. Tidak ada gerutuan atau ngobrol-ngobrol kecil. Sebelum bicara, Iwan memandangi keluarganya satu per satu. Ibu Anjung yang menantang tatapannya, Heru yang pura-pura tidak tahu dan banyak menunduk. Ditariknya nafas dalam-dalam.
“Saya tidak tahu mesti bicara apa. Semua yang terlibat di persidangan ini adalah saudara saya, orang-orang yang saya cintai. Tapi saya berharap, keadilan bisa ditegakkan di sini. Siapapun yang bersalah, bagaimanapun harus disalahkan. Saya ini orang yang tidak bebas, saya datang ke sini dari penjara. Tapi saya tidak merasa bersalah. Saya merasa, apa yang telah saya lakukan adalah pencarian keadilan. Meski harus mengorbankan banyak hal. Kuliah saya, hubungan dengan keluarga, dan kebebasan....”
Iwan kemudian menceritakan kedekatannya dengan Lia, sampai kunjungan Lia yang rutin seminggu sekali ke penjara, dan berhenti sama sekali sejak sebulan setengah lalu.
“Jadi hubungan Anda memang tidak harmonis dengan keluarga?” tanya pembela Heru.
“Iya, sejak saya aktif dalam berbagai diskusi dan gerakan di kampus.”
“Dan kemudian merasa lebih dekat dengan Lia?”
“Kedekatan kami telah terjadi sejak lama.”
“Bisa diceritakan, sejauh mana kedekatan Anda dengan Lia?”
“Lebih dari saudara.”
“Anda sering berjalan-jalan?”
“Ya.”
“Apa saja yang dilakukan bila jalan-jalan.”
“Nonton, jajan, atau hanya jalan saja.”
“Jalan-jalan tanpa bertujuan apapun?”
“Ya.”
“Atau karena Anda ingin pergi berduaan?”
“Tidak.”
“Anda pernah melakukan yang nyerempet-nyerempet seks?”
“Tidak.”
“Anda pernah mencium Lia?”
“Pernah.”
“Itu kan nyerempet seks.”
“Saya mencium keningnya, atau rambutnya.”
“Anda suka memeluknya juga?”
“Ya.”
“Tidak merasakan apa-apa?”
“Maksudnya?”
“Terbangkitkan birahi misalnya.”
Iwan menarik napas. “Tidak.”
Pengunjung bergemuruh seperti lebah di sarangnya. Banyak yang menggerutu, menganggap pertanyaan-pertanyaan pembela Heru keterlaluan dan provokatif. Sidang kali ini memang banyak dikuasai pembela Heru yang mencoba untuk memojokkan Lia. Siapapun saksi yang dihadapkan, dia selalu bertanya kelemahan hubungan baik antara saksi dengan Lia. Atau mencurigai berlebihan, seperti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Iwan.
Nurlita melihat semuanya dengan gemas. Persidangan itu menjengkelkan. Tidak ada yang perlu dicatat. Hanya argumen pemutarbalikan fakta yang menjijikan. Pertunjukan mengesankan malah terjadi di ruangan lain. Pertemuan Iwan dengan Lia, setelah persidangan, di ruang belakang, begitu menggetarkan. Lia menangis di pelukan Iwan. Tubuhnya berguncang hebat, seolah ingin menumpahkan seluruh bebannya saat itu juga. Iwan mendekapnya erat, membelai rambutnya. Dan dari ujung matanya, mengalir airmata, menyusuri pipi, tanpa suara isak sedikit pun.
Sayangnya peristiwa itu tidak dilihat oleh wartawan. Kejadian lain yang diburu wartawan adalah adanya pengunjung yang tiba-tiba mendekati Heru dan memukulnya. Pihak keamanan menangkap orang yang bernama Rudi itu. Besoknya koran-koran menulis tentang kedekatan Lia dengan beberapa lelaki. Dengan Iwan yang mereka tidak bisa mengerti dan merasakan hubungan seperti apa diantara keduanya. Dengan Rudi yang emosional memukul Heru, dan diperkirakan diantara keduanya punya hubungan romantis, karena tidak mungkin sekedar berteman biasa.
Ibu Anjung juga memberi komentar: “Saya tidak menyangka anak-anak saya begitu jauh berhubungan dengan Lia. Gadis itu terlalu jauh masuk ke keluarga saya, memberikan andil kepada keretakan hubungan diantara kami. Iwan yang paling terasa terpengaruhinya. Dia memang nakal, tapi tidak sampai melawan seperti kemarin.”
Nurlita menangis membaca semua berita-berita itu. Dia membayangkan, bagaimana kesan masyarakat kepada Lia. Dia merasa lemah, merasa tidak bisa apa-apa, karena ternyata begitu tidak gampang membentuk opini publik, sesuai kenyataan sekalipun. Sayang, koran-koran itu tidak tahu pertemuan Iwan dan Lia yang mengharukan, Bi Ami dan Mang Apit yang kemudian dikeluarkan dari pekerjaannya.
Tapi ketika pulang ke tempat kost, Lia tidak menampakkan kesedihan apapun. Ketika Nurlita memeluknya, tidak ada isakan sedikitpun. Nafasnya begitu tenang. Nurlita sendiri yang kali ini tidak kuat. Dia mencium rambut Lia dan menangis. 
“Lia tahu apa yang ditulis koran-koran. Biarlah semuanya terjadi, kita sudahi saja, Lia hanya ingin memulai hidup ini dengan indah, dengan memaafkan siapapun, dengan mencintai siapapun. Bagi Lia, kepercayaan dan cinta dari A Iwan, dan Teh Ita, sudah cukup.”
“Tapi ini belum berakhir, Lia. Teman-teman dari LBH tetap akan mengusahakan....”
“Sudahi saja, Teh. Lelah kita mengikuti terus hal seperti ini ... Biarlah mereka merasa puas dengan pengadilan ini. Kita nikmati saja sisa hidup ini, dengan indah, dengan mencintai siapapun dan apapun, tanpa mempertimbangkan apapun. Karena ada keadilan abadi yang menakjubkan, dan hanya bisa dilalui dengan kebaikan ... Saat ini, Lia hanya ingin mencari pekerjaan, membantu Teteh, menikmati segalanya....”
 Nurlita memejamkan matanya. Merasakan keindahan dari kebeningan hati gadis di depannya. Betapa kejam dunia ini, kehidupan ini...
**

Diberdayakan oleh Blogger.

Populer

 
Copyright © 2013. Jendela Seni. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni